Tampilkan postingan dengan label Blitar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blitar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2011

"Reog Bulkio", Seni Tari Perang Yang Berkembang di Blitar



The One - “Reog Bulkio” mungkin kata itu masih terasa asing saat pertama kali kita mendengarnya,  memang tak banyak orang yang tahu tentang kesenian tari perang yang berkembang di wilayah bagian utara kabupaten blitar jawa timur itu, karena selama ini jika kita mendengar kata reog pasti pikiran kita tertuju ke ponorogo.

Kamis, 20 Oktober 2011

MONEMEN POTLOT BLITAR, TEMPAT PERTAMA KALI BENDERA MERAH PUTIH DIKIBARKAN.


MONUMEN POTLOT
The One - Bicara mengenaipemberontakan PETA Blitar Jawa Timur, sebenarnya tidak hanya bicara mengenaisosok Supriyadi yang misterius. Seketika setelah pemberontakan berlangsungsebuah bendera (yang akhirnya kini menjadi bendera Republik Indonesia) warnamerah putih, berkibar di Blitar.

Selasa, 18 Oktober 2011

JAVANESE BAND,,,,Band TKI Malaysia


The One - JAVANESE BAND adalah sebuah grup band yang berdiri pada tanggal 10 desember 2006 di negeri jiran malaysia. Grup ini di bentuk oleh 4 orang pemuda perantauan asal jawa timur dan jawa tengah yang bekerja di negeri jiran sebagai Tenaga Kerja Indonesia ( TKI ).

Terbentuknya band ini berawal dari hijrahnya KEN ARIF (gitaris+keyboard) dan OPICK (bass) meninggalkan kota BLITAR Jawa Timur ke Malaysia demi mewujudkan impianya, dinegeri jiran itulah keduanya bertemu dengan TATA (vocalis) berasal dari SOLO dan SUPRI (drum) berasal dari PATI Jawa Tengah,  yang kebetulan keduanya pernah mendirikan Band namun belum menemukan kekompakan dalm personilnya sehingga grupnya bubar. 



Jumat, 07 Oktober 2011

DUGOL,,,,,,Raja Durian Dari Blitar

The One – “DUGOL”,,,,bagi sebagian besar orang mungkin kata itu baru pertama kali didengar dan bahkan terasa aneh dengan kata tersebut. Namun, jangan salah meski kata itu terasa aneh dan asing, itu merupakan sebuah kata yang merupakan nama dari durian asal blitar yang telah dinobatkan sebagai raja durian atau king of fruits se-jatim pada Festival Durian se-Jatim 2010, Senin ( 1/3/2010) di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur di Malang.

Senin, 03 Oktober 2011

Alami Sinkob, 11 Murid MTs N Jambewangi Dilarikan ke RS

Blitar - Sebelas orang siswa-siswi MTS Negeri Jambewangi, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar, Jawa Timur dilarikan ke rumah sakit karena pingsan usai mengikuti upacara bendera.

Menurut keterangan salah seorang guru, Nu’man, kejadian berawal setelah para siswa-siswi mengikuti upacara bendera pada pukul 7.30 WIB. Tiba-tiba selang dua jam, siswa-siswa sekolah tersebut berjatuhan pingsan. Dan karena pihak sekolah kewalahan, akhirnya siswa-siswi yang pingsan tersebut dibawa ke puskesmas Selopuro dan dirujuk ke RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.

Sementara menurut salah seorang siswi yang pingsan, Sri Ajeng Komariah menuturkan, dirinya merasa mual, pusing dan langsung pingsan saat usai mengikuti upacara bendera. Sri Ajeng mengaku, ia memang tidak sarapan atau makan pagi sebelum berangkat sekolah.

Ke sebelas siswa-siswi yang pingsan itu terdiri dari 10 orang perempuan dan 1 orang laki-laki.

Daftar korban:

1. Mita Yulina Santi (VIII C)

2. Sri Ajeng Komariyah (VIII B)

3. Robiah (IX D)

4. Sahna (VII F)

5. Infan Dwi (VII D)

6. Amin N Mustapa (IX A)

7. Eka Z (VII D)

8. Adawiyah (IX D)

9. Isma Lutfiah (VIII E)

10. Riska (VIII E)

11. Berlyan (VIII E).

Sementara itu, keterangan dari rumah sakit, sekitar pukul 10.30, yang datang sebanyak empat siswa yang diantarkan pihak madrasah. Tak berapa lama, datang beberapa siswa lagi secara bergelombang hingga pukul 11.46. Total ada 11 siswa yang mendapatkan penanganan dari pihak rumah sakit untuk diketahui penyebab pingsan massal itu.

Hasil diagnosa, gejala yang dialami semua siswa rata-rata sama, yakni mual dan pusing. Dan tidak ada siswa yang berakibat batal dengan musibah itu. “Hanya satu yang memerlukan bantuan oksigen karena merasa sesak,” jelas Kasubbag Humas RSUD Ngudi Waluyo Lilik Sukesi.

Lanjutnya, informasi dari tim medis di Unit Gawat Darurat (UGD) yang menangani 11 siswa itu, mereka pingsan (sinkob) karena kepanasan (exhausen). Dan dari hasil penanganan, sekitar 30 menit usai penanganan, semua siswa sudah menunjukkan kondisi yang membaik. Baru sekitar pukul 13.30, satu persatu siswa sudah diizinkan pulang, karena kondisi sudah membaik dan ditangani dengan rawat jalan. (wh/blt)

Demo puluhan Mahasiswa UIB Ricuh

BLITAR- Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Komite Mahasiswa Penyelamat Kewibawaan Universitas Islam Balitar ( KMPW UIB ) pada Senin (03/10), melakukan aksi unjuk rasa di kampusnya.

Dalam orasinya mereka menolak hasil pemilihan presiden Badan Eksekutif Mahasiswa ( BEM ) UIB periode 2011/2012 karena dinilai syarat rekayasa.

Aksi yang di ikuti oleh sekitar 20 orang mahasiswa tersebut berakhir ricuh, kericuhan terjadi setelah mereka lama berorasi di luar area kampus namun tidak ada respon dari pihak rektorat, akhirnya mereka memaksa masuk kedalam kampus dengan mendobrak pintu gerbang.

Dan, setelah berhasil masuk area kampus mereka melanjutkan orasinya, dan mereka juga membubarkan kegiatan OSPEK Mahasiswa Baru yang saat itu tengah berlangsung. Tak hanya itu, bendera merah putih yang berada dihalaman kampus UIB juga tak luput dari sasaran aksi, sejumlah demonstran menurunkan bendera merah putih menjadi setengah tiang.

7 Tuntutan KMPW:

1. Adakan mosi tidak percaya dan bubarkan hasil pemilihan PRESBEM UIB periode 2011/2012

2. Boikot OSPEK

3. Adakan pemilihan PRESBEM UIB ulang

4. Bentuk struktur organisasi mahasiswa yang jelas

5. Usut tuntas segala indikasi penyelewengan dana pemilihan PRESBEM UIB periode 2011/2012

6. Segera bentuk DPM ( Dewan Perwakilan Mahasiswa ), yang telah vakum sejak tahun 2008

7. Selamatkan kewibawaan UIB. (wh/blt)

Sabtu, 01 Oktober 2011

Ini Kisah Ketua Gerwani Kabupaten Blitar

Blitar-Selain bergegas menyelamatkan diri, ingatan Putmainah, 83 belum bisa melupakan bagaimana dirinya membawa semua anaknya menyingkir jauh-jauh dari rumah. Ia gendong si bungsu Komara (Komunis Marhaenis dan Agama) yang saat itu belum genap berusia setahun, sekaligus menjelaskan apa yang terjadi kepada si sulung Dinana Amin Handayani yang masih berusia 13 tahun.

Dengan keterbatasan fisik seorang perempuan, Putmainah mengungsikan 7 anaknya ke rumah orang tuanya di Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Ia mendengar kabar bahwa paska G 30 S/PKI 1965 meletus di Jakarta, sekelompok massa yang berasal dari ormas Islam telah bergerak.

Gerakan itu tidak hanya mengepung ibukota, tapi juga merembes ke daerah. Dari Jakarta, gelombang “serangan” menerjang sejumlah daerah di Jawa Tengah. Kemudian Jawa Timur, Bali dan Sumatera Utara. Dengan didampingi barisan militer angkatan darat (AD), massa menyerbu semua rumah yang diidentifikasi sebagai pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sejumlah litetarur sejarah menyebut sekitar 1 juta nyawa melayang dan sekitar 1,6 juta orang lagi di tahan tanpa proses pengadilan.

“Sementara saya sendiri adalah Ketua Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) Kabupaten Blitar yang juga anggota Fraksi PKI. Tentunya saya juga menjadi sasaran kemarahan berikutnya, “tutur Putmainah mengenang masa suram itu. Tidak ada tarikan nafas dalam.

Begitupun tidak terlihat secuilpun paras kesedihan. Perempuan dengan rambut yang seluruhnya memutih, kulit yang mengeriput, serta bola mata yang tidak jernih lagi karena usia itu, terlihat begitu tegar. Bahkan suaranya masih terdengar bersemangat. Lantang dan berapi-api.

“Memang inilah sejarah perjalanan hidup saya, “katanya tegas tanpa ada nada menyesal. Putmainah duduk di salah satu kursi ruang tamunya. Sejak bebas dari kurungan penjara orde baru, ia hidup sendiri di tanah kelahiranya Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Di belakang kursi yang didudukinya, tampak ilustrasi Bung Karno yang terbingkai rapi di tembok.

Sebuah sketsa strimin yang tersusun dari rajutan benang bol warna warni. Sementara lurus di hadapannya, tampak foto KH Abdurahman Wahid (Gus Dur). Foto cucu pendiri ormas Islam Nahdatul Ulama KH Hasyim Asy’ari itu dibuat pada saat Gus Dur masih menjabat sebagai Presiden RI yang keempat. Sedangkan di tembok sebelah kiri, tepat diatas pesawat televisi 21 inchi, terpajang lukisan berukuran besar. Seorang lelaki tua dengan kumis tebal melintang serta udeng (ikat kepala) di kepalanya. Dialah KH Abdurrahman, kakek Putmainah.

Kisah yang ia ketahui, Abdurahman merupakan laskar Pangeran Diponegoro. Ia lari ke arah timur (Jawa Timur) setelah Belanda berhasil mengalahkan pasukanya. “Kakek saya adalah seorang Haji yang juga pejuang dari Mataraman, “cetusnya dengan nada bangga. Ayah Putmainah adalah Haji Mansyur, putra KH Abdurahman. Mansyur seorang tokoh (Ketua) Sarikat Islam Merah Kabupaten Blitar yang juga seorang hafal Al Qur’an (Hafidz).

SI Merah merupakan pecahan Sarikat Islam pimpinan HOS Cokroaminoto (Juni 1916) yang pada akhirnya berganti nama menjadi Sarikat Rakyat (SR). Dari ayahnya yang terbunuh dalam pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 itulah, Putmainah yang aktif di organisasi Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) mengenal dasar-dasar ajaran komunis.

Bagaimana berbagi dengan sesama dan bagaimana bertindak ketika dalam kondisi terjepit. Bahwa tidak ada malam tanpa pagi. Seingat Putmainah, paska G30 S/PKI 1965, selain sepotong kebaya dan jarik yang melekat di badan, tak ada secuilpun harta benda yang dibawanya.

“Karena suasana sudah demikian gentingnya. Saya harus pergi dengan segera, “terangnya. Saat itu (1965), Subandi suaminya masih berada di Jakarta. Ketua PKI Kota Blitar yang juga Ketua Front Nasional Blitar serta Ketua DPRGR (Sekarang DPRD) Kota Blitar itu tengah menghadiri Kongres PKI.

Kabupaten dan Kota Blitar merupakan basis massa PKI. Dari sebanyak 45 kursi di DPRGR, 25 diantaranya milik PKI. Sedangkan sisanya dibagi rata partai Islam (NU dan Masyumi), PNI serta partai lainya. Informasi yang diterima Putmainah dari para “kamerad” yang selamat, Subandi dalam perjalanan pulang ke Blitar.

Kendati demikian sejak itu (1965), ia tidak pernah lagi berkomunikasi dengan pria yang pertama kali dijumpainya di organisasi Pesindo tersebut. “Secara pasti saya tidak tahu nasib suami saya. Namun kalau masih hidup tentunya sekarang ini kami sudah bertemu lagi, “terangnya secara tidak langsung lebih meyakini Subandi telah meninggal dunia.

Dorongan ingin selamat membuatnya tidak berfikir panjang. Rumah beserta isinya ia tinggalkan begitu saja. Tempat tinggal pribadi itu berada di Jalan Sultan Agung, Kota Blitar, bersebelahan dengan Istana Gebang -nama lain rumah mendiang Ny Soekarmini Wardojo (Kakak Kandung Bung Karno).

“Saya tidak takut mati. Karena saya yakin apa yang saya lakukan untuk rakyat adalah sesuatu benar. Saya hanya ingin selamat untuk meneruskan perjuangan selanjutnya, “paparnya. Setelah para petinggi PKI dieksekusi, seperti Njoto ditembak pada 6 November, kemudian Dipa Nusantara Aidit pada 22 November serta Wakil Ketua PKI M.H Lukman sesudahnya, giliran para petinggi PKI di daerah diserbu. Siapapun yang teridentifikasi dalam barisan wanita (Gerwani), buruh (SOBSI), Pemuda (Pemuda Rakyat), petani (BTI) dan kebudayaan (Lekra) “dibersihkan”. Penghuni rumah dibawa paksa untuk dieksekusi.

Jika tidak ditemukan, isi rumah dijarah, bahkan tidak jarang langsung diobrak-abrik. “Tempat tinggal saya juga dirusak, “terang Putmainah yang sampai hari ini tidak mampu mendapatkan kembali haknya atas rumah di lingkungan Istana Gebang tersebut.

Selama tiga tahun, tokoh komunis Blitar ini hidup di hutan belantara sebagai pelarian politik. Harta satu-satunya hanya pakaian yang melekat di raga. Untuk menghindari kejaran tentara angkatan darat (AD) dan massa ormas Islam, Putmainah memilih bersembunyi di dalam Gua Gayas, gua yang menghadap pantai selatan di wilayah perbukitan kapur Blitar Selatan.

Lubang dalam tanah itu begitu sempit dan pengap. Ditambah banyaknya orang yang bersembunyi membuat persediaan oksigen di dalamnya semakin terbatas. “Berdiri saja harus berhimpitan.

Saya keluar pada malam hari, untuk mencari makan. Kalau siang bertahan di dalam gua, “kenangnya. Untuk mengusir rasa lapar, Putmainah memilih bergantung dari “lezatnya” dedaunan hutan. Ia selalu memulai dengan menggigit kecil pada bagian pinggir daun. Cara itu untuk menguji apakah daun tersebut layak makan atau tidak. “Kalau gatal tidak saya teruskan. Berarti beracun. Karenanya saya cari yang lain, “paparnya.

Untuk menghilangkan dahaga, para pelarian politik ini bergantung pada tetesan air di dalam gua. Kondisinya yang serba tandus itu justru menjadikan Blitar selatan sebagai wilayah pertahanan paling aman bagi pengikut PKI paska gestapu meletus.

Sebab sebagian besar warga yang bertempat tinggal di perbukitan kapur tersebut memiliki tradisi Gerakan Tutup Mulut (GTM) yang kuat. Warga memilih menggelengkan kepala sebagai ungkapan tidak tahu ketika para serdadu bertanya tentang ada tidaknya tokoh komunis yang bersembunyi di daerah mereka. “Bahkan anak kecil pun bisa menjadi kurir pengantar surat dalam gerakan kami, “terangnya.

Namun, bagaimanapun hebatnya pertahanan orang-orang PKI, jumlah tentara lebih banyak. Apalagi mereka mendapat sokongan penuh dari ormas Islam. Satu persatu pengikut komunis mulai tidak tahan. Tekanan fisik dan mental serta rasa lapar dan dahaga yang tak terhingga mendorong mereka untuk keluar dari lobang-lobang persembunyian. Sebab selain gua gayas, masih banyak gua lain di Blitar selatan yang menjadi lokasi “tiarap” para gerilyawan PKI.

Putmainah sendiri mengaku tidak bersedia keluar, ketika “kawanya” yang bernama Murjani, tokoh PKI asal Tulungagung mengajaknya keluar, istri Subandi itu memutuskan bertahan di dalam gua.

“Karena saat itu kondisi saya sudah sangat lemah. Saya lapar dan tidak bisa berjalan lagi, “papar Putmainah. Ia berhasil ditangkap setelah salah seorang pengikut PKI memberitahu tentara bahwa masih ada seorang perempuan yang bertahan di dalam gua.

“Ini orangnya yang memberitahukan saya ada di dalam gua, “terang Putmainah yang menunjuk seorang laki-laki dalam sebuah foto hitam putih. Kedua tangan laki-laki yang berperawakan kurus itu tampak terikat. Putmainah duduk jongkok di sebelahnya dengan kedua tangan terikat. Sementara sejumlah tentara angkatan darat yang berdiri di belakang dan di sampingnya tampak bahagia. Semuanya memperlihatkan senyum kemenangan.

“Mungkin mereka semua itu (tentara) merasa bangga telah berhasil menangkap saya. Sebab saya dianggap tokoh PKI di Blitar, “pungkasnya.

Dari Plantungan, Korea dan Mahasiswa

Hari pertama penangkapan, Putmainah langsung di tahan di koramil daerah Lodoyo, Kabupaten Blitar. Seperti biasa, interogasi tentang sejauh mana keterlibatan dalam G30 S/PKI menjadi sarapan sehari-harinya. “Soal itu (G 30 S PKI) saya tidak tahu apa-apa. Kami tidak pernah memberontak.

Jika memberontak tentu persiapan itu sudah ada di daerah. Namun kenyataanya semua itu (persiapan pemberontakan) tidak ada, “ujar Putmainah. Dari tahanan militer Lodoyo, Putmainah dilayar (dipindah) ke Kediri. Tidak lama dari sana, ia dipindah lagi ke penjara militer Madiun dan akhirnya dibuang ke penjara Plantungan, Kabupaten Kendal, sebelah selatan Kota Semarang. Penjara plantungan merupakan bekas rumah sakit penderita kusta. Bagi orang-orang eks tapol (PKI), Plantungan merupakan pulau burunya Gerwani. “Sebab semua penghuninya adalah perempuan, “terangnya.

Selama 10 tahun lamanya Putmaniah hidup di sana. Selain bercocok tanam, aktivitas sehari-harinya adalah membuat kerajinan tangan termasuk bermain kesenian. Selama di Plantungan, ia juga mendapat kunjungan anak sulungnya yang diantar eyangnya. “Penjaga disana baik-baik.

Meskipun ada interogasi tetapi tidak ada penyiksaan, “kenangnya. Keluar dari “pengasingan”, Putmainah langsung pulang ke kampung halamanya di Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat. Bermodalkan dari menjual harta warisan mendiang suaminya, ia berdagang sayuran dan sembako.

Ia besarkan anak-anaknya seorang diri. Kecuali si sulung, seluruh anak Putmainah mengenyam bangku perguruan tinggi. Bahkan beberapa diantaranya lulusan universitas negeri terkemuka di Surabaya. Putmainah sendiri hanya lulusan sekolah Taman Siswa di Tulungagung (setingkat SMP) “Hanya anak sulung saya yang hanya lulusan sekolah dasar. Sejarah hitam yang membuatnya kehilangan masa depan pendidikanya, “tuturnya.

Selain merawat rumah yang ditempatinya seorang diri, kegiatan hidup Putmainah sehari-hari adalah membaca buku dan melihat berita di televisi. Baru pada tahun 2003 lalu, setempel eks tapol terhapus dari identitasnya (KTP) dan dia tidak lagi melakukan absen rutin di Koramil Srengat. Di luar semua kegiatan itu, sejumlah aktivis lembaga swadaya masyarakat kerap mengundangnya sebagai pelaku sekaligus korban sejarah 1965. Sekitar tahun 2009 lalu, Putmainah dibawa ke Korea Selatan untuk menceritakan kisah, seperti apakah sesungguhnya peristiwa 1965 yang terjadi di Indonesia. Apakah memang PKI menyiapkan pemberontakan? Atau itu semua merupakan skenario Amerika untuk menggulingkan Bung Karno?. Di luar itu, Putmainah sering menghadiri undangan di acara seminar atau dialog yang menyangkut persitiwa 1965.

Sejumlah mahasiswa tidak sedikit yang datang ke rumahnya hanya untuk menyelesaikan tugas akhir (skripsi) yang terkait dengan peristiwa 1965. “Saya di negerinya kapitalis (Korea Selatan) selama 10 hari. Terakhir pada tahun 2011 ini saya juga diajak ke Blitar selatan untuk menunjukkan langsung gua yang dulu menjadi tempat persembunyian. Saya suka dengan anak muda yang tertarik dengan sejarah, “paparnya.

Dendamkah dengan negara yang telah menorehkan sejarah pahit ini? Putmainah mengatakan tidak merasa dendam. Kendati demikian ia tidak bisa melupakan hal itu.

Menurutnya, mereka yang menghabisi orang-orang PKI juga sebagai korban yang tidak mengetahui politik. “Yang saya harapkan saat ini adalah kepada anak muda, khususnya mahasiswa untuk bisa mengambil peran yang baik untuk perubahan negara yang lebih baik, “pungkasnya.


sumber: okezone.com

Jumat, 30 September 2011

Kabupaten Blitar

Kabupaten Blitar

Kabupaten Blitar adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Pusat pemerintahan kabupaten ini berada di Kanigoro setelah sebelumnya satu wilayah dengan Kota Blitar.



§ Geografi

· Pembagian administratif

Kabupaten Blitar memiliki 22 kecamatan yang dibagi lagi menjadi 220 desa dan 28 kelurahan dengan luas wilayah 1.588,79 km².

· Batas Wilayah

Utara : Kabupaten Kediri

Selatan : Samudra Hindia

Barat : Kabupaten Tulungagung

Timur : Kabupaten Malang

· Keadaan tanah

Gunung Kelud (1.731 m. dpl.) adalah salah satu gunung api strato yang masih aktif di Pulau Jawa yang terletak di bagian utara kabupaten ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Kediri.

Bagian selatan Kabupaten Blitar yang dipisahkan oleh Sungai Brantas dikenal sebagai penghasil kaolin dan dilintasi oleh Pegunungan Kapur Selatan. Pantai yang terkenal antara lain Pantai Tambakrejo, Serang dan Jalasutra.

Blitar, baik kota maupun kabupaten, terletak di kaki Gunung Kelud, Jawa Timur. Daerah Blitar selalu terkena lahar Gunung Kelud yang sudah meletus puluhan kali terhitung sejak tahun 1331. Lapisan-lapisan tanah vulkanik yang banyak ditemukan di Blitar pada hakikatnya merupakan hasil pembekuan lahar Gunung Kelud yang telah meletus secara berkala sejak bertahun-tahun yang lalu.

Keadaan tanah di daerah Blitar yang kebanyakan berupa tanah vulkanik, mengandung abu letusan gunung berapi, pasir dan napal (batu kapur yang tercampur tanah liat). Tanah tersebut pada umumnya berwarna abu-abu kekuningan, bersifat masam, gembur dan peka terhadap erosi. Tanah semacam itu disebut regosol yang dapat dimanfaatkan untuk menanam padi, tebu, tembakau dan sayur mayur. Selain hijaunya persawahan yang kini mendominasi pemandangan alam di daerah Kabupaten Blitar, ditanam pula tanaman tembakau di daerah ini. Tembakau ini mulai ditanam sejak Belanda berhasil menguasai daerah ini sekitar abad ke-17. Bahkan kemajuan ekonomi Blitar pernah ditentukan dengan keberhasilan atau kegagalan produksi tembakau.

Sungai Brantas yang mengalir dari timur ke barat membagi Kabupaten Blitar menjadi dua, yaitu bagian utara dan selatan. Bagian selatan Kabupaten Blitar (sering disebut Blitar Selatan) kebanyakan tanahnya berjenis grumusol. Tanah semacam ini hanya produktif bila dimanfaatkan untuk menanam ketela pohon, jagung dan jati.

¨ Sungai Brantas

Sungai Brantas merupakan sungai terpanjang kedua di Jawa Timur setelah Bengawan Solo (sebagian mengalir di wilayah Jawa Tengah). Sungai ini memegang peranan penting dalam sejarah politik maupun sosial Provinsi Jawa Timur. Sungai yang berhulu di Gunung Arjuno ini turut membawa unsur-unsur utama dari dataran tinggi aluvial di Malang yang bersifat masam sehingga menghasilkan unsur garam yang berguna bagi kesuburan tanah.

Di Kabupaten Blitar, aliran air Sungai Brantas diberi tambahan unsur utama sehingga menyebabkan daerah dataran rendah aluvial yang dilintasi Sungai Brantas, seperti Tulungagung dan Kediri, memiliki tanah yang subur.

§ Sejarah

· Masa Kerajaan

Tiga daerah subur, yaitu Malang, Kediri dan Mojokerto, seakan-akan "diciptakan" oleh Sungai Brantas sebagai pusat kedudukan suatu pemerintahan, sesuai dengan teori natural seats of power yang dicetuskan oleh pakar geopolitik, Sir Halford Mackinder, pada tahun 1919. Teori tersebut memang benar adanya karena kerajaan-kerajaan besar yang didirikan di Jawa Timur, seperti Kerajaan Kediri, Kerajaan Singosari dan Kerajaan Majapahit, semuanya beribukota di dekat daerah aliran Sungai Brantas.

Jika saat ini Kediri dan Malang dapat dicapai melalui tiga jalan utama, yaitu melalui Mojosari, Ngantang, atau Blitar, maka tidak demikian dengan masa lalu. Dulu orang hanya mau memakai jalur melalui Mojosari atau Blitar jika ingin bepergian ke Kediri atau Malang. Hal ini disebabkan karena saat itu, jalur yang melewati Ngantang masih terlalu berbahaya untuk ditempuh, seperti yang pernah dikemukakan oleh J.K.J de Jonge dan M.L. van de Venter pada tahun 1909.

Jalur utara yang melintasi Mojosari sebenarnya saat itu juga masih sulit dilintasi mengingat banyaknya daerah rawa di sekitar muara Sungai Porong. Di lokasi itu pula, Laskar Jayakatwang yang telah susah payah mengejar Raden Wijaya pada tahun 1292 gagal menangkapnya karena medan yang terlalu sulit. Oleh karena itulah, jalur yang melintasi Blitar lebih disukai orang karena lebih mudah dan aman untuk ditempuh, didukung oleh keadaan alamnya yang cukup landai.

Pada zaman dulu (namun masih bertahan hingga sekarang), daerah Blitar merupakan daerah lintasan antara Dhoho (Kediri) dengan Tumapel (Malang) yang paling cepat dan mudah. Di sinilah peranan penting yang dimiliki Blitar, yaitu daerah yang menguasai jalur transportasi antara dua daerah yang saling bersaing (Panjalu dan Jenggala serta Dhoho dan Singosari). Banyaknya prasasti yang ditemukan di daerah ini (kira-kira 21 prasasti) bisa dikaitkan dengan alasan tersebut.

· Kitab Negarakertagama

Pendapat yang mengatakan bahwa Kabupaten Blitar merupakan daerah perbatasan antara Dhoho dengan Tumapel dapat disimpulkan dari salah satu cerita dalam Kitab Negarakertagama karya Empu Prapanca. Disebutkan dalam kitab tersebut bahwa Raja Airlangga meminta Empu Bharada untuk membagi Kerajaan Kediri menjadi dua, yaitu Panjalu dan Jenggala. Empu Bharada menyanggupinya dan melaksanakan titah tersebut dengan cara menuangkan air kendi dari ketinggian. Air tersebut konon berubah menjadi sungai yang memisahkan Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala. Letak dan nama sungai ini belum diketahui dengan pasti sampai sekarang, tetapi beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa sungai tersebut adalah Sungai Lekso (masyarakat sekitar menyebutnya Kali Lekso). Pendapat tersebut didasarkan atas dasar etimologis mengenai nama sungai yang disebutkan dalam Kitab Pararaton.

· Kitab Pararaton

Diceritakan dalam Kitab Pararaton bahwa balatentara Daha yang dipimpin oleh Raja Jayakatwang berniat menyerang pasukan Kerajaan Singosari yang dipimpin oleh Raja Kertanegara melalui jalur utara (Mojosari). Adapun yang bergerak melalui jalur selatan disebutkan dalam Kitab Pararaton dengan kalimat saking pinggir Aksa anuju in Lawor... anjugjugring Singosari pisan yang berarti dari tepi Aksa menuju Lawor... langsung menuju Singosari. Nama atau kata Aksa yang muncul dalam kalimat tersebut diperkirakan merupakan kependekan dari Kali Aksa yang akhirnya sedikit berubah nama menjadi Kali Lekso. Pendapat ini diperkuat lagi dengan peta buatan abad ke-17 (digambar ulang oleh De Jonge) yang mengatakan bahwa ...di sebelah timur sungai ini (Sungai Lekso) adalah wilayah Malang dan di sebelah baratnya adalah wilayah Blitar.

· Candi

Oleh karena letaknya yang strategis, Blitar penting artinya bagi kegiatan keagamaan, terutama Hindu, di masa lalu. Lebih dari 12 candi tersebar di seantero Blitar. Adapun candi yang paling terkenal di daerah ini adalah Candi Penataran yang terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok. Menurut riwayatnya, Candi Penataran dahulu merupakan candi negara atau candi utama kerajaan. Pembangunan Candi Penataran dimulai ketika Raja Kertajaya mempersembahkan sima untuk memuja sira paduka bhatara palah yang berangka tahun Saka 1119 (1197 Masehi).

Nama Penataran ini kemungkinan besar bukan nama candinya, melainkan nama statusnya sebagai candi utama kerajaan. Candi-candi pusat semacam ini di Bali juga disebut dengan penataran, misalnya Pura Panataransasih. Menurut seorang ahli, kata natar berarti pusat, sehingga Candi Penataran di sini dapat diartikan sebagai candi pusat.

· Hari Jadi

Salah satu sumber sejarah yang paling penting adalah prasasti karena merupakan dokumen tertulis yang asli dan terjamin kebenarannya. Prasasti dapat diartikan sebagai tulisan dalam bentuk puisi yang berupa pujian.

Enam abad yang lalu, tepatnya pada bulan Waisaka tahun Saka 1283 atau 1361 Masehi, Raja Majapahit yang bernama Hayam Wuruk beserta para pengiringnya menyempatkan diri singgah di Blitar untuk mengadakan upacara pemujaan di Candi Penataran. Rombongan itu tidak hanya singgah di Candi Penataran, tetapi juga ke tempat-tempat lain yang dianggap suci, yaitu Sawentar (Lwangwentar) di Kanigoro, Jimbe, Lodoyo, Simping (Sumberjati) di Kademangan dan Mleri (Weleri) di Srengat.

Hayam Wuruk tidak hanya sekali singgah di Blitar. Pada tahun 1357 Masehi (1279 Saka) Hayam Wuruk berkunjung kembali ke Blitar untuk meninjau daerah pantai selatan dan menginap selama beberapa hari di Lodoyo. Hal itu mencerminkan betapa pentingnya daerah Blitar kala itu, sehingga Hayam Wuruk pun tidak segan untuk melakukan dua kali kunjungan istimewa dengan tujuan yang berbeda ke daerah ini.

Pada tahun 1316 dan 1317 Kerajaan Majapahit carut marut karena terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Kuti dan Sengkuni. Kondisi itu memaksa Raja Jayanegara untuk menyelamatkan diri ke desa Bedander dengan pengawalan pasukan Bhayangkara dibawah pimpinan Gajah Mada. Berkat siasat Gajah Mada, Jayanegara berhasil kembali naik tahta dengan selamat. Adapun Kuti dan Sengkuni berhasil diringkus dan kemudian dihukum mati. Oleh karena sambutan hangat dan perlindungan ketat yang diberikan penduduk Desa Bedander, maka Jayanegara pun memberikan hadiah berupa prasasti kepada para penduduk desa tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa pemberian prasasti ini merupakan peristiwa penting karena menjadikan Blitar sebagai daerah swatantra di bawah naungan Kerajaan Majapahit. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada hari Minggu Pahing bulan Srawana tahun Saka 1246 atau 5 Agustus 1324 Masehi, sesuai dengan tanggal yang tercantum pada prasasti. Tanggal itulah yang akhirnya diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Blitar setiap tahunnya.